Karya Ilmiah

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOSA KATA
UNTUK MEMBUAT TEKS ESEI PENDEK BERBENTUK
PROCEDURE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SUMPING DI KELAS IX A SMP NEGERI 2 DONOROJO



Oleh :
SULISTYADI, S.Pd
NIP.19700510 200212 1 015
SMP NEGERI 2 DONOROJO KAB. PACITAN














BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Standar Kompetensi dalam silabus menyatakan bahwa dalam pembelajaran siswa diharapkan mampu memahami dan mengungkapkan makna tertentu untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pelajaran Bahasa Inggris SMP bermakna bahwa siswa diberi keterampilan untuk memahami dan mengungkapkan makna baik tertulis maupun lisan untuk berinteraksi dalam kehidupan nyata. Keterampilan tersebut disampaikan dalam bentuk pelajaran menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing).
Keempat keterampilan tersebut disampaikan dalam bentuk teks yakni: teks transaksional–interpersonal, teks monolog, teks fungsional dan teks esei. Semua itu harus didukung oleh unsur unsur bahasa lainnya yaitu : Kosa kata, Tata Bahasa(Struktur kalimat), dan Pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Dari ke empat teks yang disampaikan teks fungsional dan teks esei merupakan pembelajaran yang paling mendapat porsi yang lebih banyak, mengingat ujian nasional menitik beratkan pada pengerjaan soal teks fungsional dan teks esei. Standar Kompetensi pada silabus KTSP kelas IX menyatakan: Memahami dan mengungkapkan makna dalam tulis fungsional dan esei pendek sederhana berbentuk procedure dan report untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pada Kompetensi dasar ditulis bahwa merespon dan mengungkapkan makna dan langkah retorika dalam esei pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam kontek kehidupan sehari-hari dalm teks berbentuk procedure/report. Artinya siswa diharapkan mampu mengungkapkan pemikirannya dalam bentuk teks yang benar dan bisa dipahami oleh pembaca.
Usaha untuk mencapai tujuan tersebut penulis lakukan secara klassikal. Penulis menjelaskan materi pokok yang terdapat dalam indikator sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi makna gagasan dalam teks berbentuk procedure.
b. Mengidentifikasi berbagai informasi yang terdapat dalam teks berbentuk procedure.
c. Siswa diberi tugas membaca teks esei pendek berbentuk procedure kemudian mereka menterjemahkannya.
d. Siswa menjawab pertanyaan tentang teks secara berkelompok.
e. Guru dan siswa mencocokkan jawaban sambil mengoreksi jawaban yang benar dan yang salah, selanjutnya siswa mengganti jawaban yang salah dnegan jawaban yang benar.
f. Guru menjelaskan generik struktur teks kepada siswa sambil memberi contoh cara membuat teks.
g. Guru memberi tugas siswa untuk membuat teks dengan kata-kata sendiri.
Hasil belajar siswa dari cara pembelajaran tersebut ternyata sangat menyedihkan. Siswa kelas IX A yang mampu mendapatkan nilai di atas KKM hanyalah 20%, artinya 80% tidak bisa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal(KKM). Siswa masih merasa bingung dalam membuat teks. Kekurangan kosakata yang mereka miliki mendukung kebingungan tersebut. Terlebih lagi tanpa ada panduan dari orang lain terutama guru dalam mengerjakan tugas. Banyak siswa yang acuh malah tidak mau mengerjakan tugas sama sekali karena tidak tahu mau berbuat apa untuk menyelesaikan tugas tersebut. Mereka sangat kesulitan mengerjakan tugas tugasnya. Terutama pada tugas membuat teks yang baru yang memerlukan perbendaharaan kosakata yang memadai. Artinya pembelajaran belum mengantarkan siswa untuk mencapai kompetensi yang diinginkan oleh silabus.
Uraian tersebut diatas menggambarkan belum mampunya proses belajar mengantarkan siswa mencapai kompentensi. Kegagalan tersebut merupakan masalah yang harus diatasi. Untuk mengatasi kegagalan pembelajaran tersebut diatas, penulis berusaha mencari solusi yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas.
Prinsip PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) harus dilaksanakan. Guru bukan lagi merupakan sosok yang mendominasi pembelajran dengan berbagai macam perintah tanpa memberi fasilitas kepada siswa, tetapi Guru harus bisa menjadi seorang fasilitator dan motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakan siswa untuk belajara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan.
Penulis berhipotesis bahwa teknik belajar (teori belajar) Kontruktivisme sangatlah tepat kalau dipakai dalam pembelajaran ini. Penulis mencoba menggunakan model pembelajaran SUMPING. Ada sebuah penelitian yang dibuat seseorang teman sejawat di SMA Paranggupito yang bisa menyelesaikan masalah rendahnya kemampuan menulis dengan S-V-O-C -mind mapping. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengadopsi kegiatan tersebut dengan judul, “Peningkatan Kemampuan Kosa Kata siswa untuk membuat teks esei pendek berbentuk Procedure melalui Model Pembelajaran SUMPING di kelas IX A SMP Negeri 2 Donorojo.”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah yang penulis tetapkan adalah:
1. Bagaimana model pembelajaran SUMPING itu mampu meningkatkan kemampuan kosa kata siswa untuk membuat teks esei pendek berbentuk procedure?
2. Apakah penerapan model pembelajaran SUMPING dapat meningkatkan kemampuan kosa kata siswa untuk membuat teks esei pendek berbentuk procedure?
A. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui upaya model pembelajaran SUMPING itu mampu meningkatkan kemampuan kosa kata siswa untuk membuat teks esei pendek berbentuk procedure.
2. Untuk mengetahui bahwa penerapan model pembelajaran SUMPING itu mampu meningkatkan kemampuan kosa kata siswa untuk membuat teks esei pendek berbentuk procedure.

B. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat menambah inovasi dalam menggunakan model pembelajaran serta memberikan stimulus bagi Guru Bahasa Inggris dalam mengembangkan model-model pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peserta didik.
1) Terselesaikannya salah satu masalah peserta didik melalui model pembelajaran SUMPING.
2) Peserta didik merasa senang dalam menjalani proses pembelajaran.
3) Terlaksanakannya kebiasaan belajar pemetaan materi pembelajaran dengan cara yang mudah, praktis, efektif dan menyenangkan.
4) Menumbuhkan kreativitas dan kepercayaan diri.
b. Bagi guru Bahasa Ingris
1) Menghasilkan inovasi model pembelajaran.
2) Keberhasilan pembelajaran dalam mengentaskan permasalahan peserta didik dapat meningkatkan semangat dan kinerja guru Bahasa Inggris.
c. Bagi Sekolah
1) Memberikan motivasi kepada guru Bahasa Inggris dan sekolah dalam meningkatkan kompetensi peserta didik. .
2) Memberikan masukan kepada sekolah mengenai kemanfaatan salah satu model pembelajaran dalam menyampaikan materi kepada peserta didik.
3) Memberikan informasi baru kepada tenaga pendidik di sekolah yang belum mengenal model pembelajaran SUMPING.





BAB II
LANDASAN TEORI


A. Kajian Teori
1. Teori dan Model Pembelajaran
a. Teori Pembelajaran
Menurut Mirjam Anugerahwati teori pembelajaran memungkinkan guru untuk memilih kegiatan pembelajaran, memprediksi hasil belajar, dan belajar membuat rencana kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan. Ada tiga teori yang mendasari pembelajaran yakni:
1. Behaviourism
Belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksindari stimulus dan respon. Menurut teori ini, pebelajar dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman tertentu kepadanya. Belajar stsu learning terjadi bila ada perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma S-R(Stimulus-Respons), yaitu suatu proses yang memberikan respons tertentu terhadap kejadian yang datang dari luar.
Menurut Thorndike, salah satu pakar behaviourism selain Watson dan Skinner, belajar adalah proses interaksi antara stimulus(yang mungkin yang mungkin terjadi berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan Respon(yang juga bisa berbentuk pikiran, perasaan, atau gerakan). Perubahan tingkah laku bisa dalam bentuk yang konkret ataupun yang non konkret.
Sedangkan Watson, Stimulus dan Respon harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Watson mengabaikan perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggap sebagai faktor yang tak perlu diketahui.
Skinner berpendapat bila menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab “alat” itu juga harus dijelaskan lagi. Teori Skinner ini berpengaruh besar terhadap perkembangan teori belajar.
2. Cognitivism
Menurut penganut teori Cognivsm belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu terlihat sebagai tingkah laku. Belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan.
Menurut Piaget proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif, yaitu tahap:
1. Sensorimotor(ketika anak berumur 1,5 sampai 2 tahun)
2. Praoperasional(2/3 sampai 7/8 tahun)
3. Operasional(7/8 sampai 12/14 tahun)
4. Operasional formal(14 tahun atau lebih)
Guru seyogyanya memahami tahap-tahap perkembangan ini karena proses belajar yang dialami seorang anak tidak akan sama pada masing-masing tahap.
3. Constructivism
Menurut ahli Constructivism belajar merupakan pemakna pengetahuan. Sedangkan pengetahuan bersifat temporer, selalu berubah. Karena segala sesuatu bersifat temporer maka manusialah yang harus memberi makna terhadap realitas. Menurut Northfield, Gonstone dan Erikson(2012) dalam Mirjam calon guru dan guru untuk selalu aktif mengkonstruksi pengetahuan. Guru perlu mengajar secara konstruktif, mendalami bahan dan bidang ilmunya secara mendalam dan luas. Ada lima hal yang dapat diidentifikasikan mengenai belajar menurut teori Constructivism yaitu:
1. Pebelajar telah memiliki pengetahuan awal
2. Belajar merupakan proses pengkonstruksian suatu pengetahuan yang telah dimiliki.
3. Belajar adalah penambahan konsepsi belajar.
4. Proses pengkonstruksian pengetahuan berlangsung dalam konteks sosial tertentu.
5. Pebelajar bertenggung jawab terhadap proses belajarnya.
b. Model Pembelajaran
Menurut Hendy Hermawan(2006), Model Pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan serta melaksanakan aktivitas pembelajaran (udin:2001). Dengan demikian, aktivitas pembelajaran merupakan kegiatan yang tertata secara sistematis.
Hakikat mengajar atau teaching adalah membantu siswa memperoleh ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Dalam kenyataannya, hasil akhir atau hasil jangka panjang dari proses pembelajaran adalah – the student’s increased capabilities to learn more easily and effectively in the future, yaitu siswa meningkatkab kemampuannya untuk dapat belajar lebih mudah dan lebih efektif di masa yang akan datang(Joyce and Weil, 1986:1). Oleh karena itu, proses pembelajaran tidak hanya memiliki makna deskriptif dan keterkinian, akan tetapi juga bermakna prospektif dan beroientasi masa depan.
Joyce dan Well dalam Hendy Hermawan(2006) mengelompokkan model-model pembelajaran ke dalam empat kategori:
1. Kelompok Model Pengolahan Informasi
Model ini menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan internal(dari dalam diri) untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengordinasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya. Model ini bisa diterapkan pada berbagai usia. Beberapa model yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah:
a. pencapaian konsep
b. berpikir induktif
c. latihan penelitian
d. pemandu awal
e. memorisasi
f. pengembangan intelek
g. penelitian ilmiah.
2. Kelompok Model Personal
Hidup manusia terletak pada kesadaran individu. Mereka mengembangkan kepribadian yang unik yang merupakan hasil pengalaman dan kedudukannya. Model personal beranjak dari pandangan kedirian dan pendidikan ditujukan untuk dapat memahami diri sendiri dengan baik, memikul tanggung jawab untuk pendidikan, dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Kelompok model personal memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian. Model pembelajaran dalam kelompok ini diantaranya:
a. pengajaran tanpa arahan
b. sinektiks
c. latihan kesadaran
d. pertemuan kelas
3. Kelompok model sosial
Kerjasama merupakan salah satu fenomena kehidupan masyarakat, karena dengan kerjasama manusia dapat membangkitkan dan menghimpun tenaga atau energi secara bersama yang kemudian disebut sinergi(joyce dan Well dalam Hendy Hermawan:2006)
Model ini dirancang memanfaatkan kerjasama. Dengan bekerjasama diharapkan membantu proses belajar. Kelompok model ini adalah:
a. investigasi kelompok
b. bermain peran
c. penelitian jurisprodensial
d. latihan laboratoris
e. penelitian ilmu sosial
4. Kelompok Model Sistem Perilaku
Dasar teori dari kelompok ini ialah teori-teori sosial atau social learning theories. Model ini dikenal pula sebagai model modifikasi Perilaku atau behavioral modification. Dasar pemikirannya adalah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri atau self correction system yang memodifikasi perilaku dalam hubunganya dengan bagaimana tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. Model yang termasuk dalam ke dalam kelompok ini adalah:
a. Belajar tuntas
b. Pembelajaran
c. Belajar kontrol diri
d. Latihan pengembangan keterampilan dan konsep
e. Latihan asentif.
c. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif atau Cooperative learning adalah strategi pembelajaran secara berkelompok, siswa belajar bersama dan saling membantu dalam membuat tugas dengan penekanan pada saling support diantara anggota.(Kellog dalam Mirjam:2012).Belajar kooperatif bertujuan untuk menciptakan situasi dimana keberhasilan dapat tercapai bila siswa lain juga mencapai tujuan tersebut. Ada lima prinsip mendasari pembelajaran kooperatif, yaitu:
1. Positive independence: saling tergantung secara positive, artinya anggota kelompok menyadari bahwa mereka perlu bekerja sama unutk mencdapai tujuan.
2. Face to face interaction: semua anggota berinteraksi dengfan saling berhadapan.
3. Individual accountibility: setiap anggota harus belajar dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhasilan kelompok.
4. Use of collaborative/social: keterampilan bekerjasama dan berkolaborasi, untuk ini diperlukan bimbingan guru agar siwa dapat b erkolaborasi.
5. Group processing: siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Cooperative Learning :
1. Hasil kerja adalah hasil kelompok
2. Penghargaan adalah untuk kelompok bukan perorangan.
3. Setiap anggota mempunyai peran/tugas yang merupakan bagian dari tugas kelompok.
4. Antara anggota saling memberi dorongan dan saling membantu
5. Guru memberi feedback untuk kelompok
6. Semua anggota kelompok bertanggung jawab atas kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif dapat dilaksanakan dalam semua mata pelajarasn atau bidang studi baik untuk pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Banyak contoh pembelajaran kooperatif learning. Diantara banyak contoh tersebut , penulis mendesain satu teknik pembelajaran yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dari Cooperatrive Learning itu sendiri. Dalam penelitian ini penulis menggunakan Model pembelajaran Structure-mind mapping.
2. Hakekat Mind Map
1. Penegerian Mind Map
Wikipedia mengartikan mind map sebagai:
A mind map is a diagram used to represent words, ideas, tasks, or other items linked to and arranged around a central key word or idea. Mind maps are used to generate, visualize, structure, and classify ideas, and as an aid to studying and organizing information, solving problems, making decisions, and writing.

Sebuah peta pikiran adalah sebuah diagram yang digunakan untuk mewakili kata-kata, ide, tugas, atau item lain yang terhubung dengan kata kunci sentral atau ide. Peta pikiran yang digunakan dapat menghasilkan, memvisualisasikan, struktur, dan mengklasifikasikan ide-ide, dan sebagai bantuan untuk belajar dan mengorganisir informasi, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menulis. (diunduh pada tanggal 12 Oktober 2011)

Langkah-langkah membuat mind map menurut Tony Buzan (2002:107) sebagai berikut :
1) Mulai dengan citra warna di tengah-tengah, sebuah citra seringkali bernilai seribu kata dan mendorong pemikiran kreatif seraya meningkatkan memori dengan signifikan.Letakkan kertas dalam posisi berbaring,
2) Citra diseluruh peta pikiran anda, seperti di nomor 1 dan untuk mendorong seluruh proses pikatlah mata dan bantu memori,
3) kata sebaiknya ditulis dengan huruf cetak, untuk keperluan pembacaan kembali kata yang ditulis dengan huruf cetak memberikan umpan balik yang lebih fotografis, jelas, mudah dibaca dan komprehensif,
4) kata yang ditulis dengan huruf cetak sebaiknya di atas garis, dan setiap garis sebaiknya dihubungkan dengan garis lain,
5) kata sebaiknya dalam satu unit, yakni satu kata per-garis, ini membuat setiap kata bebas mengait serta memberikan kebebasan dan fleksibilitas lebih banyak dalam membuat catatan,
6) buatlah warna di setiap peta pikiran karena meningkatkan memori, menyenangkan mata, dan merangsang proses selaput otak sebelah kanan,
7) dengan usaha yang kreatif dari sifat ini, pikiran sebaiknya dibiarkan sebebas mungkin.
Susana Widyastuti, M.A (2010:4) Proses menuangkan pikiran menjadi tidak beraturan atau malah tersendat ketika anak-anak terjebak dalam model menuangkan pikiran yang kurang efektif sehingga kreativitas tidak muncul, Model dikte dan mencatat semua yang didiktekan pendidik, mendengar ceramah, dan mengingat isinya, menghafal kata-kata penting, dan artinya terjadi dalam proses belajar dan mengajar di sekolah atau di mana saja menjadi kurang efektif ketika tidak didukung oleh kreativitas pendidik atau anak itu sendiri. Jadi, peta pikiran diperlukan karena: 1) banyak anak mengalami kesulitan ketika berusaha mengingat kembali apa yang sudah didapatkan, dipelajari, direkam, dicatat atau yang dahulu pernah diingat, 2) beberapa anak mengalami kesulitan berkonsentrasi, atau ketika mengerjakan tugas. Ini terjadi dikarenakan catatan ataupun ingatannya belum teratur.
Masih dari tulisan Susana (2010:3) hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang bercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon. Semua peta pikiran mempunyai kesamaan. Semuanya menggunakan warna. Semuanya memiliki struktur alami yang memancar dari pusat. Semuanya menggunakan garis lengkung, simbol, kata dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak.
Adapun beberapa manfaat mind map menurut Femi Olivia (2008: 8) antara lain : 1) membantu anak berkonsentrasi (memusatkan perhatian) dan lebih baik dalam mengingat, 2) meningkatkan kecerdasan visual dan ketrampilan observasi, 3) melatih kemampuan berpikir kritis, 4) melatih inisiatif dan rasa ingin tahu, 5) meningkatkan kreativitas dan daya cipta, 6) membuat catatan dan ringkasan pelajaran yang lebih baik, 7) membantu mendapatkan atau memunculkan idea tau cerita yang brilian, 8) meningkatkan kecepatan berpikir mandiri, 9) menghemat waktu sebaik mungkin, 9) membantu mengembangkan diri serta merangsang pengembangan berpikir, 10) membantu menghadapi ujian dengan mudah dan mendapat nilai yang lebih bagus, 11) membantu mengatur pikiran, hobi dan hidup kita, 12) melatih koordinasi gerakan tangan dan mata, 13) mendapatkan kesempatan yang lebih banyak dengan bersenang-senang, 14) membuat lebih focus pada ide utama atau maupun semua ide tambahan, 15) membantu menggunakan kedua-belahan otak yang membuat kita ingin terus menerus belajar. Mind mapp yang erat kaitanya dengan sistim limbik, yaitu peranannya sebagai pengatur emosi seperti marah, senang, lapar, haus dan sebagainya. Sedangkan emosi sangat diperlukan untuk menciptakan motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang tinggi dapat menambah kepercayaan diri peserta didik, sehingga tidak ragu dan malu serta mau mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya terutama potensi yang berhubungan dengan kreativitas
2. Model Pembelajaran mind mapping
Mind mapping merupakan cara untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke luar otak. Bentuk structure-mind mapping seperti peta sebuah jalan di kota yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya peta jalan kita bisa membuat pandangan secara menyeluruh tentang pokok masalah dalam suatu area yang sangat luas. Dengan sebuah peta kita bisa merencanakan sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui kemana kita akan pergi dan dimana kita berada(http://www.kaskus.us/showthread.php?t=702661)
Mind mapping bisa disebut sebuah peta rute yang digunakan ingatan, membuat kita menyusun fakta pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja otak kita yang alami akan dilibatkan sejak awal sehingga mengingat informasi lebih mudah dan bisa diandalkan daripada menggunakan teknik mencatat biasa. Mind mapping merupakan teknik penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan seluruh potensi otak agar optimum. Caranya, menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Dengan metoda Mind mapping siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%.
Kelebihan menggunakan teknik Mind mapping adalah:
1. cara ini cepat
2. Teknik dapat digunakan untuk mengorganisasi ide-ide yang muncul di kepala
3. Proses menggambar diagram bisa memunculkan ide-ide yang lain.
4. Dagram yang sudah terbentuk bisa menjadi panduan menulis. (http://esceava.com/tips-menulis/tips-fiksi/menulis-dengan-diagram-balon.html)
Langkah-langkah Pembelajaran dengan Mind mapping:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru
3. MODEL PEMBELAJARAN SUMPING
Dalam An Introduction to Genre-based writing dijelaskan bila siswa akan perlu mengenal macam-macam jenis grammar yang ada dalam kalimat. Siswa perlun mengenal jenis kata yang digunakan, macam-macam klausa termasuk kata kerja dan kata benda. Tanpa pengertian hal tersebut di atas baik guru maupun siswa akan merasakan kesulitan dalam membuat teks.
Dari penjelasan-penjelasan di atas penulis mencoba memodifikasi model yang ada yakni mind mapping dengan perlunya siswa tahu tentang grammar yang sering diketahui sebagai struktur kalimat, menjadi Strtucture-Mapping atau dalam penelitian ini disebut SUMPING. Model ini memadukan pemetaan struktur kalimat yang digunakan dalam teks procedure dengan pemetaan dalam mind mapping menjadi structure mapping yang memudahkan siswa mengenali kata yang akan mereka buat untuk membentuk kalimat dalam teks procedure.
Berikut ini adalah contoh SUMPING:

How to boil water
4. Teks Procedure
Teks Procedure digunakan untuk memberikan petunjuk tentang langkah-langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu ( Otong Setiawan Djuhaeri, 2006 : 38 ). Teks Procedure umumnya berisi tips atau serangkaian tindakan atau langkah dalam membuat suatu baran atau suatu aktifitas. Teks Procedure dikenal pula dengan istilah directory dan biasanya dalam pembentukannya menggunakan kalimat imperative ( Suruhan ). Teks ini umumnya memiliki generic structure ( susunan umum ):
1). Goal atau tujuan kegiatan.
Menurut Mark and Kathy Anderson(2003), tujuan teks procedure bisa berupa judul teks atau paragraph pengenalan.
2).Materials atau bahan-bahan yang diperlukan untuk melengkapi procedure.
Bagian ini dapat berupa daftar, paragraph. Langkah langka ini mungkin tidak digunakan dalam beberapa teks.
3).Steps atau Tahapan-tahapan proses pembuatan dan pelakasanaan aktivitas.
Penomoran digunakan dalam langkah ini, urutannya harus jelas, penggunaan kata sambung misalnya next, after this dan langkah atau cara dimulai dengan kalimat perintah.
2. Penelitian Yang Relevan
a. PTK dengan judul UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOSA KATA SISWA UNTUK MENGUNGKAPKAN MAKNA DALAM BENTUK ESEI PENDEK BERBENTUK PROCEDURE DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STRUCTURE-MIND MAPPING DI KELAS IX SMP NEGERI 4 CIAMIS.
b. PTK dengan judul Peningkatan ketrampilan nenulis teks deskriptif melalui penerapan strategi S – V – O – C – mind map pada kelas X.2 SMA Pancasila 3 Paranggupito tahunpelajaran 2009/2010.

B. Kerangka Berpikir
Pembelajaran Bahasa Inggris SMP tidak hanya sekedar agar siswa mampu menyelesaikan soal Ujian Nasional dan lulus ujian Nasional. Telah jelas dalam silabus disebutkan bila diharapkan siswa mampu merespon dan mengungkapan materi tertentu yang berterima untuk kehidupan sehari-hari. Keterampilan mereaspon dan mengungkapkan tersebut dilakukan baik dalam tulisan maupun ucapan. Mampu membuat teks tertentu adalah salah satu karakteristik mampu mengungkapkan materi pembelajaran dalam bentuk tulis.
Agar siswa mampu membuat teks sesuai tuntutan kurikulum guru harus mampu menemukan strategi pembelajaran yang dapat mencapai target tersebut. Penulis memilih model pembelajaran structure-mind mapping dalam pembelajaran teks procedure, dengan model ini siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan menulis teks procedur-nya.
Dari model pembelajaran tersebut penulis menyusun progam pembelajaran dalam bentuk siklus. Selama siklus diadakan monitoring oleh teman sejawat, dari teman penulis satu sekolah dan satu mata pelajran. Hasil monitoring dianalisis agar diketahui peningkatan dan efektifitas serta kekurangan dan kelebihan pembelajaran sebagai bahan refleksi unutk perbaikan. Hasil refleksi digunakan untuk perumusan perbaikan program pembelajaran berikutnya.
Kerangka berfikir di atas digambarkan dalam diagram sebagai berikut:









C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian reflektif yang berdasarkan teori dalam peneltian tindakan kelas, maka dalam penelitian tindakan kelas ini penulis tetapkan hipotesis tindakannya sebagai berikut : melalui metode structure-mind mapping dalam pembelajaran teks procedure diduga dapat meningkatkan kemampuan kosa kata untuk membuat teks procedure didik kelas IX A SMPN 2 Donorojo , Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2011.


















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
Penulis melakukan penelitian ini saat pembelajaran teks procedure siklus tulis di kelas IX A SMP Negeri 2 Donorojo yang terdiri dari 25 siswa. Teks Procedure merupakan salah satu Standar Kompetensi Lulusan yang diujikan dalam Ujian nasional sehingga perlu dipahami dengan baik oleh siswa merupakan alasan utama mengapa penulis melakukan penelitian tindakan kelas ini.
Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan selama 4 bulan mulai bulan Agustus 2013 sampai bulan Nopember 2013.
Waktu tercatat dalam rencana kegiatan sebagai berikut:
NO Kegiatan Agustus September Oktober Nopember
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan X X
2 Pelaksanaan siklus 1 X X
3 Observasi dan refleksi X
4 Pelaksanaan siklus 2 X X
5 Observasi dan refleksi X
6 Penyusunan laporan X X

B. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian tindakan ini diperoleh dari:
1. Data Primer adalah data yang diperoleh dari siswa yang berupa nilai tes tertulis dan nilai kinerja dalam bentuk tulisan. Pada masing-masing siklus tindakan diadkan tes dan siswa mengumpulkan hasil tulisannya.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pengamatan penulis dan kolaborator yang berupa hasil diskusi yang diadakan pada setiap siklus.
C. Metode dan Alat Pengumpul Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini berupa:
1. Peneliti memberikan tes untuk mengetahui kemampuan kosa kata siswa yang berhubungan teks procedure sebelum dan sesudah tindakan.
2. Peneliti memberikan lembar kerja untuk siswa untuk membuat teks procedure sesuai tema yang diberikan oleh guru.
3. Peneliti menyebarkan kuesioner sebelum dan sesudah tindakan penelitian.
4. Peneliti melakukan pengamatan atau observasi.
Peneliti mengumpulkan data dengan:
1. Butir tes
2. Lembar kerja
3. Pertanyaan koesioner
4. Lembar pengamatan atau obersvasi.
D. Validasi Data
1. Tes dan lembar kerja siswa diujicobakan kepada siswa yang bukan merupakan subyek penelitian.
2. Validasi koesioner juga dilakukan seperti tes ujicoba menulis di atas.
3. Validasi lembar pengamatan dilakukan dengan melibatkan seorang ahli yang mengetahui apakah lembar pengmatan telah mewakili data yang akan diambil.
E. Analisa Data
1. Hasil tes tentang kosa kata yang berhubungan dengan teks procedure dari siswa dibuat rerata dan dianalisis.
2. Tulisan siswa dinilai berdasar aspek dan rubrik penilaian yang mencakup aspek isi tulisan dan tata bahasa dan ketepatan pemilihan kata. Hasilnya dianalisis dengan membandingkan nilai tes antar siklus.
3. Koesioner diberikan 2(dua) kali yakni sebelum dan seudah tindakan. Koesioner dibuat berdasarkan skala Likert dengan rentang 1-5 yang menyatakan Sangat Tidak Setuju(STS), Tidak Setuju(TS), Agak Setuju(AG), Setuju(S), Sangat Setuju(SS). Hasilnya dianalisis.
4. Hasil pengamatan oleh kolaborator dan peneliti dianalisis unutk mengetahui apa yang terjadi dan masalah yang muncul ketika siswa menulis teks procedure.
F. Prosedur Penelitian
1. Planning
Pada tahap ini penulis melakukan kegiatan-kegiatan seperti mencari referensi yang berkaitan dengan model pembelajaran yakni pembelajaran dengan structure-mind mapping, teks procedure, siklus pembelajaran serta Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) tentang pembelajaran Bahasa Inggris. Penulis melakukan kegiatan-kegiatan berikut:
a. Pembuatan Jadwal Penelitian.
b. Pembuatan Rencana Pembelajaran (RPP)
c. Pembuatan butir soal tes
d. Pemilihan topik dan subyek yang akan dikembangkan.
e. Pembuatan Lembar Kerja Siswa(LKS)
f. Pembuatan Koesioner untuk siswa.
g. Pembuatan rubrik pensekoran untuk hasil tulisan siswa.
h. Pembuatan instrumen pengamatan.
i. Pembuatan lembar catatan harian yang digunakan untuk merekam informasi secara kualitatif yang diperoleh selama tindakan. Catatan bisa berupa masalah yang dihadapi siswa atau petunjuk tentang sesuatu yang dapat diterapkan dalam siklus berikutnya.

2. Acting
Seperti telah dijelaskan pada landasa teori bahwa penelitian ini menggunakan pembelajaran kooperatif yang mengambil model structure-mind mapping dan peneliti menggunakan hree phase technique dalam pembelajaran, maka penelitian ini dilaksanakan pada saat kegiatan inti. Peneliti melaksanakan pembelajaran sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh peserta didik dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
Dari kegiatan tersebut pada akhir pertemuan kedua setiap siklusnya siswa disuruh membuat teks procedure secara individu.
3. Observation/Evaluation
Pengamatan dan evaluasi difokuskan pada perkembangan kemampuan kosakata siswa selama fase treatment. Data dianalisis dan program dievaluasi berdasarkan masukan dari kolaborator dan peneliti sendiri.
4. Refleksi
Adapun refleksinya dilaksanakan terhadap proses pemberian tindakan dan hasil dari pemebelaajran structure-mind mapping. Memikirkan kembali atau mendata kekurangan-kekurangan yang dilaksanakan dalam kegiatan pada siklus 1, dan menjadi bahan masukan atau tambahan bagi pelaksanaan tindakan di siklus 2. Selanjutnya pelaksanaan tindakan kelas pada setiap siklus juga melalui tahapan-tahapan yang sama seperti di atas.
G. Indikator Kerja
Indikator kerja dalam penelitian ini adalah keefektif pembelajaran dengan structure-mind mapping adalah :
1. Bertambahnya kosakata siswa untuk membuat teks berbentuk procedure.
2. Bertambahnya kualitas teks procedure yang dibuat siswa dengan ditandai semakin banyak variasi judul teks yang dibuat oleh siswa.
3. Bertambahnya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.







BAB IV
HASIL PENLITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal
Pada awal Laporan penelitian ini penulis telah menjelaskan cara pembelajaran yang digunakan adalah cara konvensional dan klassikal, yakni:
a. Mengidentifikasi makna gagasan dalam teks berbentuk procedure.
b. Mengidentifikasi berbagai informasi yang terdapat dalam teks berbentuk procedure.
c. Siswa diberi tugas membaca teks esei pendek berbentuk procedure kemudian mereka menterjemahkannya.
d. Siswa menjawab pertanyaan tentang teks secara berkelompok.
e. Guru dan siswa mencocokkan jawaban sambil mengoreksi jawaban yang benar dan yang salah, selanjutnya siswa mengganti jawaban yang salah dnegan jawaban yang benar.
f. Guru menjelaskan generik struktur teks kepada siswa sambil memberi contoh cara membuat teks.
g. Guru memberi tugas siswa untuk membuat teks dengan kata-kata sendiri.
Hasil dari pembelajaran seperti itu adalah kurangnya kosa kata yang dimiliki oleh siswa, kurangnya variasi judul hasil tulisan siswa dan angka rerata hasil evaluasi siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal.
B. Deskripsi Siklus I
Pada penilitian siklus I, peneliti melakukan beberapa hal yakni:
1. Planning
Beberapa perencanaan yang dilaksanakan adalah:
b. Menyusun Rencana Pembelajaran
c. Menyusun skenario pembelajaran dengan structure-mind mapping
d. Menyiapkan fasilitas pengambilan data seperti: lembar soal, lembar pengamatan dan angket.
2. Acting
Pembelajaran dengan structure-mind mapping dilaksanakan dengan cara mengajak siswa untuk memetakan struktur pada teks procedure. Guru memberi mengajak siswa untuk memikirkan materi apa yang bisa dibuat menjadi teks procedure dengan memberi pertanyaan tentang bagaimana cara membuat makanan yang mereka sukai. Siswa menjawab bagaimana cara membuat bakwan, ada yang menjawab bagaimana cara menjerang air, bagaimana menggoreng krupuk dan masih banyak lagi. Guru memutuskan untuk mengajak siswa memetakan bagaimana cara menjerang air.
Bagaimana menjerang air ini dipetakan pada bagian paling atas sebagai aim atau tujuan teks dibuat. Kemudian guru mengajak siswa memetakan apa saja yang dibutuhkan dalam menjerang air. Siswa menginventarisasi barang-barang apa saja yang dibutuhkan unutk menjerang air. Banyak jawaban yang diberikan oleh siswa sesuai dengan pengalaman pribadi yang mereka miliki. Kemudian diputuskan bahwa cara yang digunakan adalah menjerang air dengan ketel dan kompor gas sehingga tidak menimbulkan banyak persepsi. Untuk menjerang air dengan kompor gas mereka membutuhkan: kompor, ketel dan air. Alat dan bahan yang dibutuhkan dipetakan di bawah tujuan dengan judul alat/bahan yang dibutuhkan.
Langkah berikutnya adalah siswa diajak memetakan apa yang seharusnya dilakukan lebih dahulu apabila mereka ingin menjerang air. Siswa menjawab dengan berbagai variasi jawaban. Setelah ditemukan langkah pertama guru dan siswa bersama-sama memetakan langkah-langkah berikutnya. Pemetaan ini diletakkan di bawah alat/bahan yang selanjutnya diberi nama procedure.
Penjelasan di atas dibentuk structure-mind mapping:










Dari diagram di atas akan menjadi teks procedur sebagai berikut:
HOW TO BOIL WATER

Materials needed:
- Water
- Stove
- Kettle
Procedure:
1. Put water into the kettle.
2. Put the kettle on the stove.
3. Flame the stove.
4. Wait for minute until the water is boiled.
Pemetaan ini jelas untuk membedakan posisi dari masing-masing struktur dalam teks. Siswa diharapkan mampu membedakan fungsi masing-masing struktur yang mengakibatkan terbukanya banyak kosa kata untuk membuat teks tersebut.
Setelah tindakan ini siswa bekerja secara kelompok untuk membuat teks procedure dengan judul yang lain. Pembahasan topik ini membutuhkan waktu 2 x 40 menit.
3. Observasi dan Evaluasi
a. Observasi
Observasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan instrument yang dibuat. Validasi dilaksanakan dengan face validity dan critical reflection dari guru peneliti.
Hasil obsevasi terhadap guru dalam proses pembelajaran terdapat pada tabel 5. Proses pembelajaran berlangsung cukup baik dengan rata-rata 3,2 yang berasal dari skor rerata yang diperoleh dari hasil pengolahan skor pada lembar pengamatan siklus I.
b. Hasil Evaluasi
Penilaian yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah pendekatan yang menggunakan Penilaian Berbasis Kelas artinya pendekatan yang menitik beratkan pada penilaian sebagai alat pembelajaran, bukan tujuan pembelajaran. Proses penilaian dikembalikan pada konsep awal, yaitu menilai apa yang seharusnya dinilai. Prinsip-prinsip yang mendasari penilaian berbasis kelas adalah vailid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil, terbuka, berkesinambungan, menyeluruh dan bermakna.
Penilaian ini menggunakan pendekatan yang menekankan pada proses pembelajaran yang bermakna, dengan memperoleh data tentang kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat proses pembelajaran. Data kemajuan belajar siswa dengan pendekatan penilaian berbasis kelas meliputi Nilai Penugasan(Project), Nilai Unjuk Kerja(Performance), Nilai Hasil karya(Product), dan Nilai Tes Tertulis(Paper and Pencil Test).
Pada akhir siklus I dilaksanakan penilaian yang hasilnya adalah sebagai berikut: soal tes kognitif dibagikan pada subjek penelitian kemudian dianalisis dan terjadi peningkatan rerata yang sebelumnya 48 menjadi 64, skor terendah pada adalah 50 dan skor tertinggi adalah 82. Terlihat stelah melakukan proses pembelajaran dengan structure-mind mapping terjadi peningkatan skor perolehan hasil pembelajaran. Variasi hasil karya siswa juga ada perubahan yakni menjadi lebih bervariasi.
4. Refleksi
Guru melaksanakan refleksi setelah ada evaluasi untuk menentukan tindakan dan rencana yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Pada siklus I pembelajaran belum optimal seperti yang diharapkan, oleh karena itu perlu perbaikan perencanaan agar siswa lebih terlibat dalam pembelajaran.
Hasil monitoring siklus I ditemukan temuan sebagai berikut:
1. Kegiatan pembelajaran berlangsung lancar, meskipun masih ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan pembelajaran karena guru melakukan pembelajaran secara klassikal pada saat pemetaan pemikiran.
2. Pemilihan materi yang terlalu mudah sehingga siswa menganggap sudah bisa melakukannya, sehingga perlu pemilihan materi yang lebih menantang.
3. Perlu meningkatkan motivasi siswa
4. Adanya peningkatan pemahaman teks procedure.
Dari hasil temuan pada siklus I tersebut maka perlu dilanjutkan pada siklus II
C. Deskripsi Siklus II
Dengan memperhatikan siklus I, maka pada siklus II peneliti melakukan beberapa hal yakni:
1. Planning
Perencanaan pada siklus II yang dilaksanakan adalah:
a. Menyusun Rencana Pembelajaran
b. Menyusun skenario pembelajaran dengan structure-mind mapping
c. Menyiapkan fasilitas pengambilan data.
1. Acting
Pembelajaran dengan structure-mind mapping pada siklus II didasarkan pada data-data dan pengamatan pada siklus I. Pada siklus I memang terjadi peningkatan dalam beberapa hal, namun ada beberapa kelemahan. Kelemahan yang terjadi diantaranya guru belum membentuk kelompok pada saat memetakan pemikiran sehingga masih telihat guru sentris. Untuk menanggapi permasalahan ini guru membentuk kelompok siswa terlebih dahulu begitu memasuki kegiatan inti pada three phase technique. Kelompok yang diminta model structure-mind mapping adalah yang terdiri dari 3 orang dalam satu kelompok tanpa ada siswa ahli dalam masing-masing kelompok.
Permasalahan berikutnya adalah pemilihan materi yang terlalu mudah. Bagaimana cara menjerang air adalah suatu yang sangat familiar yang bisa dilakukan oleh siapa saja, oleh karena itu beberapa siswa tidak mau memperhatikan dan semau sendiri karena menganggap hal itu biasa dilakukan. Peniliti menganggap perlu mengubah materi menjadi yang lebih menantang agar siswa tertarik untuk mengikuti pembelajaran dan bekerja secara maksimal dengan kelompoknya untuk menghasilkan teks yang terbaik.
Guru juga memberikan tes yang dilaksnakan pada (sepuluh) menit awal pembelajaran. Tes ini juga diberikan pada akhir tindakan. Guru juga sudah membuat pemetaan yang diperlukan sehingga siswa tinggal mengisi dengan kalimat atau kata yang sesuai dengan pemetaan yang dibuat secara kelompok. Kemudian mereka membuat teks tersebut sesuai dengan kemampuannya.
Penjelasan di atas dibentuk SUMPING:















Dari diagram di atas akan menjadi teks procedur sebagai berikut:
...................................
Materials needed:
- ..........
- .............
- ...........
Procedure:
1. ....................
2. ....................
3. .....................
4. .......................
Pemetaan ini jelas untuk membedakan posisi dari masing-masing struktur dalam teks. Siswa diharapkan mampu membedakan fungsi masing-masing struktur yang mengakibatkan terbukanya banyak kosa kata untuk membuat teks tersebut.
Setelah tindakan ini siswa bekerja secara kelompok untuk membuat teks procedure dengan judul yang lain. Pembahasan topik ini membutuhkan waktu 2 x 40 menit.
2. Observasi dan Evaluasi
a. Observasi
Observasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan instrument yang dibuat. Validasi dilaksanakan dengan face validity dan critical reflection dari guru peneliti.
Hasil obsevasi terhadap guru dalam proses pembelajaran terdapat pada tabel 6. Proses pembelajaran berlangsung cukup baik dengan rata-rata 5 yang berasal dari skor rerata yang diperoleh dari hasil pengolahan skor pada lembar pengamatan siklus II.
b. Hasil Evaluasi
Pada siklus II terjadi peningkatan pada hasil tes. Nilai yang tadinya reratanya 64 menjadi 75. Skor tertinggi dan terendah pun juga ada peningkatan, skor tertinggi adalah 90 sedangkan skor terndah adalah 63.
3. Refleksi
Berdasarkan hasil refleksi dari kegiatan pada siklus II, terjadi peningkatan yang ada tidak hanya pada nilai tapi juga pada sikap siswa. Mereka lebih bersemangat dengan adanya materi yang lebih menantang membuat mereka bekerja kelompok dengan antusias.
Hasil monitoring siklus II ditemukan temuan sebagai berikut:
1. Kegiatan pembelajaran berlangsung lancar, siswa bersemangat dalam mengerjakan tugas.
2. Pemilihan materi yang lebih menantang, pembelajaran menjadi lebih efektif.
3. Format pemetaan yang diberikan pada siswa membuat mereka lebih mampu mengeksploitasi pengetahuan untuk membuat teks yang baru.
4. Keterampilan siswa dalam membuat teks procedure semakin meningkat dan variasi teks juga semakin banyak.
5. Siswa merasa senang dengan pembelajaran menggunakan structure-mind mapping untuk membuat teks procedure.
Dari hasil temuan pada siklus II tersebut maka pembelajaran menggunakan structure-mind mapping ini merupakan akhir dari siklus pemberian tindakan.
D. Pembahasan tiap Siklus
a. Hasil Penelitian Siklus I
Dari hasil tes sebelum dilaksanakan tindakan diperoleh rata-rata sebesar 48 dengan skor terendah 26 dan tertinggi 70, terlihat bahwa rata-rata hasil pembelajaran teks procedure tulis sangat rendah. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa pemahaman dan keterampilan siswa tentang pembelajaran teks procedure rendah.
Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, soal tes diberikan pada subjek penelitian, hasilnya terjadi peningkayan rata-rata yang tadinya 48 menjadi 64, skor terndah menjadi 50 dan tertinggi 82. Setelah pembelajaran dengan structure-mind mapping terjadi penongkayan skor hasil pembelajaran.
Skor pada koesioner pun juga demikian, siswa belum berpendapat positif terhadap pembelajaran procedure. Hal ini berarti siswa belum yakin bahwa mereka mampu menyusun teks procedure dengan baik.
Setelah ada tindakan pada siklus I, pendapat merekapun juga berubah. Mereka menganggap sudah sedikit memahami dan meningkat kemampuannya dalam membuat teks.
Hasil observasi terhadap pembelajaran teks procedure memperlihatkan bahwa pembelajaran berlangsung cukup baik.
b. Analisis Hasil Pembelajaran Siklus I
Berdasarkan data kemapuan siswa terhadap pembelajaran teks procedure, pada siklus ini mengalami peningkatan nilai rerata dengan perolehan nilai awal 48 menjadi 64. Dengan perbandingan sederhana dari hasil tersebut berarti ada peningkatan yang signifikan. Penggunaan structure-mind mapping mampu meningkatkan kemampuan siswa membuat teks procedure.
Dari hasil monitoring diperoleh temuan sebagai beikut:
1. Kegiatan pembelajaran berlangsung lancar, meskipun masih ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan pembelajaran karena guru melakukan pembelajaran secara klassikal pada saat pemetaan pemikiran.
2. Pemilihan materi yang terlalu mudah sehingga siswa menganggap sudah bisa melakukannya, sehingga perlu pemilihan materi yang lebih menantang.
3. Perlu meningkatkan motivasi siswa
4. Adanya peningkatan pemahaman teks procedure.
Dari hasil analisi dan temuan di atas disimpulkan bahwa:
1. Subyek penelitian mengalami peningkatan kemampuan dan keyakinan dalam membuat teks procedure dan perlu ditambah motivasinya dalam siklus berikutnya.
2. Hasil temuan dan fakta pada siklus I hendaknya dijadikan dasar penyusunan program pembelajaran pada siklus II.
b. Pembahasan Siklus II
a. Hasil Penelitian Siklus II
Pada awal siklus II, peneliti memberikan tes, siswa mengerjakan tes dengan 10 butir soal. Hasilnya diperoleh rerata 50 dengan skor terendah 30 dan tertinggi 70. Rentang nilainya cukup besar, ini berarti kemampuan siswa cukup bervariasi. Akhir tindakan siklus II, siswa diberi lagi tes yang sama dan hasilnya ada peningkatan yang cukup signifikan dari rata-rata 50 menjadi 75, dari nilai terendah 30 menjadi 63dan nilai tertinggi dari 70 menjadi 90. Deskripsi hasil tes ini dapat dilihat pada lampiran 3.
b. Analisis Hasil pembelajaran Siklus II
Pembelajaran dengan structure-mind mapping mampu meningkatkan kemampuan kosa kata siswa dalam membuat teks procedure. Pernyataan ini bisa dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata nilai siswa.
Hasil monitoring pada siklus II adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan pembelajaran berlangsung lancar, siswa bersemangat dalam mengerjakan tugas.
2. Pemilihan materi yang lebih menantang, pembelajaran menjadi lebih efektif.
3. Format pemetaan yang diberikan pada siswa membuat mereka lebih mampu mengeksploitasi pengetahuan untuk membuat teks yang baru.
4. Keterampilan siswa dalam membuat teks procedure semakin meningkat dan variasi teks juga semakin banyak.
5. Siswa merasa senang dengan pembelajaran menggunakan structure-mind mapping untuk membuat teks procedure.
c. Hasil Pembelajaran Teks Procedure sebelum dan sesudah tindakan
Data pada awal sebelum tindakan dikumpulkan oleh peneliti yang berupa hasil tes siswa siswa secara individu dalam mengerjakan tes kosakata dan membuat teks procedure menghasilkan rata-rata 48 dengan skor terendah 30 dan tertinggi 65 dan variasi teks hanya 5 buah. Hasil ini diuanggap sebagai hasil tes keterampilan menulis teks procedure.
Diakhir siklus II, peneliti mengujikan tes tersebut kepada subjek penelitian. Hasilnya adalah rerata menjadi 75 dengan skor terndah 63 dan tertinggi 90 dengan variasi menjadi 8 buah. Dari perbandingan hasil tersebut bisa dikatakan bila setelah melewati tahapan siklus I dan II, kemampuan kosa kata siswa untuk membuat teks procedure mengalami peningkatan.
Deskripsi hasil tes ini dapat dilihat pada tabel lampiran 4.
E. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil analisis dan temuan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Terjadi peningkatan kemampuan kosakata siswa dalam menulis teks procedure.
2. Terjadi peningkatan variasi jenis teks yang dibuat oleh siswa.
3. Berdasarkan fakta yang ditemukan dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun program pembelajaran yang lebih mendorong siswa aktif.

















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Peneliti mengevaluasi dan merefleksi setiap siklus bahwa siswa mengalami peningkatan kemampuan kosa kata dalam membuat teks procedure pada siklus I dan II. Hasil pada siklus I menunjukan bahwa siswa mengalami peningkatn rerata namun masih perlu beberapa pembenahan yang dilakukan pada siklus berikutnya. Pada siklus II kelemahan-kelemahan pada siklus sebelumnya menjadi acuan untuk perbaikan sehingga rerata hasil tes siswa juga mengalami peningkatan lagi. Nilai terendah dan tertinggi pun jug mengalami peningkatan.
Dari penjelasan di atas peneliti menyimpulkan bahwa penerapan structure-mind mapping dalam pembelajaran teks procedure mampu meningkatkan kemampuan kosa kata siswa dalam membuat teks procedure.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas peneliti menyarankan penggunaan model structure-mind mapping pada pembelajaran teks procedure adalah salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kemampuan kosa kata siswa.
Sebagai fasilitator bagi siswa hendaknya guru inovatif dalam memberikan pembelajaran pada siswa.
Sekolah juga hendaknya menyediakan fasilitas yang memadai demi kelancaran pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Kemmis, S. dan Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Deakin:DeakinUniversity.
Tony Buzan , 2006, Mind Map Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirtendik: 2003
Hermawan, Hendy, 2006. Model-Model Pembelajaran Inovatif.Bandung:CV.Citra Praya
Anugerahwati, Mirjam, 2012. Modul Pengembangan Materi Umum Model pembelajaran, Malang: Universitas Negeri Malang.
Suhardjono, et.al. 2005. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Jakarta:Dirjen Dikgu dan Tentis.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta.
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta.
Mulyana, Slamet. 2007. Penelitian Tindakan Kelas dalam Pengembangan Propesi Guru. Bandung:LPMP
Anderson, Mark and Kathy,2003. Text Types in English: MacMilan.
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=702661, diunduh tgl............. jam.......
http://esceava.com/tips-menulis/tips-fiksi/menulis-dengan-diagram-balon.html, diunduh tgl..........jam ..........
Widyastuti, Susana. 2010. Metode Belajar yang Efektif, Klaten.
Olivia, Femi. 2008. Gembira Belajar Dengan Structure-mind mapping. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOAL LATIHAN UNAS